Mahasiswa Bijak: Teliti Hindari Kejahatan Siber Masa Kini, Bergerak Menjadi Penyuluh Digital Bersama BRI

Facebook
Twitter
LinkedIn

Daftar Isi

 

Halo guys, apakah diantara kamu ada yang tahu apa itu kejahatan siber? atau bahkan pernah mengalami menjadi korban kejahatan siber?

Jika beberapa dari teman – teman masih belum terbayang apa itu kejahatan siber, mungkin cerita pengalamanku ini dapat membantu untuk
membantu kalian memahami apa itu kejahatan siber.

Langsung saja kita mulai ceritanya…

 

 

Penelepon Misterius

 

Malam itu hujan turun ketika aku masih berada di rumah teman untuk melakukan rekaman video. Setelah mengevaluasi pengambilan pertama untuk
setiap scene, kami memutuskan untuk mengulang beberapa diantara karena dirasa kurang memuaskan.

Saat hendak melakukan rekaman ulang, tiba – tiba saya ponsel ku berdering menandakan panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Terlebih
aku jarang mendapatkan panggilan seluler kecuali dari layanan tertentu saja.

Penasaran bercampur curiga aku angkat panggilan tersebut dan mendengarkan suara dari seberang sana yang mulai menjelaskan kondisinya dengan nada mendesak. Setelah bercerita panjang lebar masuklah dia pada maksud utamanya yaitu meminjam uang dengan janji akan dikembalikan segera.

Tentu saja sebagai seorang mahasiswa, aku tidak bisa meminjamkan uang sejumlah yang diminta, ditambah cuaca hujan membuatku sangat
malas untuk pergi ke ATM terdekat.

Tidak menyerah denganku, penelpon tersebut memintaku untuk meminta salah satu temanku yang ada untuk memberinya pinjaman. Setelah
tarik ulur yang panjang akhirnya salah seorang temanku berhasil mencari informasi terkait nomor tersebut yang sesuai dugaan adalah penipu!

 

Segera saja, aku akhiri panggilan tersebut dengan
mengatakan:


“Kalau nipu jangan cari mahasiswa ya! percuma gaada duitnya”

 

Begitulah pengalaman pertamaku mendapatkan panggilan asing yang berujung penipuan. Beruntung saat itu aku tengah bersama teman
sehingga tidak sampai percaya dan mengikuti perintahnya.

Ternyata aku hanya satu dari sekian kasus serupa yang juga dialami oleh teman – temanku. Modusnya serupa dimana pelaku bercerita
bahwa dirinya sedang dalam keadaan terdesak dan membutuhkan pinjaman sesegera mungkin.

Agar lebih meyakinkan pelaku bahkan telah mengetahui nama kita dan berpura – pura menjadi teman kita dengan meminta kita menebak
siapakah dia. Siapapun yang kita sebutkan maka pelaku akan langsung mulai untuk mencerikan kondisinya.

 

Berikutnya ada pengalaman temanku yang harus merelakan
datanya hilang begitu saja…

 

Pengalaman Terkena Ransomware

 

Cerita ini dialami oleh teman kerja praktek ku semester lalu. Salah satu bentuk kejahatan siber yang berbeda dari yang aku alami.
Tetapi berdasarkan data merupakan bentuk kejahatan yang paling umum dilakukan.

Saat itu kami tengah menjalani kerja praktek dan di challenge oleh manager dari divisi kami untuk mengembangkan sistem pertanian
skala kecil yang sudah terintegrasi dengan IoT (
Internet of Thing) agar dapat dipantau dari jauh.

Sayangnya untuk menciptakan sistem tersebut kami tidak didukung dalam pemenuhan software yang dibutuhkan. Padahal untuk menjalankan
sistem seperti yang diharapkan kami perlu untuk mendapat lisensi software tersebut.

Dan, benar sekali sebagai seorang mahasiswa temanku memiliki jalan pintas yang sudah sering dilakukan. Mencari software bajakan.

Selama proses download semua masih terlihat baik dan meyakinkan, bahkan temanku berhasil menginstall software tersebut dengan baik.
sampai akhirnya ketika software tersebut digunakan untuk menyusun program terlihat muncul peringatan antivirus.

Petaka Dimulai…

Sayang, semua sudah terlambat. Keesokan paginya ketika temanku berniat untuk melanjutkan pekerjaan kemarin, seluruh file yang ada di laptopnya mendadak berubah format dan tidak bisa dibuka. Berbagai upaya dia lakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, tapi tidak berhasil.

Temanku lantas mencari tahu masalah apa yang tengah dialaminya dan akhirnya mengerti bahwa laptopnya telah terkena ransomware. Ransomware sendiri adalah virus yang mengunci data seseorang untuk kemudian sang developer meminta tebusan agar data tersebut bisa dibuka kembali.

Selama dua hari selanjutnya kami siang dan malam di sela pekerjaan mencari cara bagaimana agar ransomware ini bisa diatasi tanpa
membayar tebusan. Tapi upaya kami pada akhirnya tidak menemukan titik temu.

Merasa putus asa, jalan terakhir akhirnya temanku tempuh dengan cara menginstall ulang laptopnya yang berarti menghapus seluruh
data sekaligus ransomware yang telah mengunci data tersebut. Sedih sekali rasanya harus kehilangan banyak data beharga yang kita punya.

 

Kejahatan Siber di Indonesia

 

Dua pengalamanku diatas aku ceritakan untuk membantu teman – teman dalam memahami apa itu kejahatan siber. Supaya kedepannya dapat
lebih berhati – hati dan selalu perhatian atau menaruh curiga terhadap sesuatu
yang tidak biasanya.

Melalui cerita yang aku bagikan, aku juga dapat menjadi seorang penyuluh digital masa kini agar orang yang membaca tulisan ini mengerti
dan tidak mengulangi kesalahan kami.

Karena memang pada faktanya, saat ini telah banyak sekali kejahatan siber yang terjadi di jagat maya Indonesia. Berdasarkan data
yang dihimpun dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) terdapat lebih dari 700 juta serangan siber yang terjadi sepanjang tahun 2022.

Modus kejahatan yang paling umum terjadi adalah upaya pemerasan dalam bentuk ransomware dan malware. Persis sama seperti apa yang
dialami oleh temanku beberapa waktu sebelumnya.

Tingginya angka kejahatan siber tentu menjadi ancaman serius dalam hal keamanan dunia maya kita. Serta menjadi tantangan tersendiri
untuk memberantas pelaku kejahatan siber karena anonimitas yang ada.

Untuk itu, upaya terbaik yang saat ini dapat kita lakukan adalah dengan membentengi diri kita masing – masing dari kejahatan
siber yang ada. Melalui edukasi yang menumbuhkan kesadaran semua orang akan pentingnya keamanan dunia maya.

 

Tujuan Pelaku Kejahatan Siber

 

Kalau kita perhatikan dengan seksama, ada banyak bentuk kejahatan siber yang saat ini dilakukan. Mulai dari SMS atau telepon asing,
phising, hingga ransomware berbahaya. Kalau kita kita perhatikan kejahatan siber ini memiliki tujuan yang sama.

Kejahatan siber dilakukan untuk mendapatkan data pribadi seseorang yang dapat berujung pemerasan. Baik secara langsung seperti
mencari data perbankan kita atau dengan ancaman yang berujung pemerasan.

Oleh karena itu, menjaga data pribadi dan lebih teliti dalam berselancar di internet menjadi mutlak untuk kita lakukan agar terhindar
dari kejahatan siber yang berujung kerugian finansial..!

 

Caraku Menghindari Kejahatan Siber sebagai Mahasiswa

 

Sebagai seorang mahasiswa tentu aku tidak akan terlepas dari yang namanya menggunakan internet dalam keseharianku. Perkembangan
teknologi juga menjadi aktivitas transaksi kini semudah ketukan jari. Namun, dibalik kemudahan tersebut timbul ancaman kejahatan siber yang membayangi.

Nah bagaimana sih, caraku menghindari kejahatan siber baik sebagai mahasiswa maupun ketika layanan menggunakan layanan perbankan.

 

1# Menggunakan Dua Nomor

Semenjak berkuliah aku memutuskan untuk memiliki dua nomor yang aku gunakan untuk dua kebutuhan berbeda. Hal ini karena sebagai
mahasiswa dengan senang belajar aku banyak mengikuti kegiatan baik offline maupun online untuk mengembangkan diri.

Banyak diantara kegiatan yang aku ikuti tersebut bersifat gratis, hehe dan penyelenggara meminta nomor hp kita saat melakukan
pendaftaran atau mengisi form. Tentu aku tidak yakin apakah dataku aman atau tidak sehingga aku memilih untuk memasukkan nomor hp kedua saja.

Lantas, benar saja hingga tingkat akhir kini aku berkuliah. Nomor yang selalu berikan kemana – mana beberapa kali mendapatkan
sms penipuan dan sejenisnya. Sedangkan nomor utama yang tidak aku bagikan jarang sekali mendapatkan hal seperti itu.

Oh ya, aku juga tidak pernah mengisi pulsa atau kuota di konter yang menuliskan nomor kita di buku mereka untuk lebih berjaga – jaga.

 

2# Memiliki Dua Email

Tujuan dari memiliki dua email sebenarnya sama dengan memiliki dua nomor telepon. Yaitu untuk menghindari spam yang menganggu email utama
kita. Terlebih ada banyak sekali penipuan yang menggunakan email untuk menjebak korbannya.

Jangan sekali – sekali kamu menekan tautan yang bersumber dari email yang tidak jelas atau mencurigakan. Karena itu bisa menjadi gerbang awal pelaku kejahatan menjebakmu dalam tipuan mereka. So, selalu curiga ya teman..

 

3# Tidak Mebiasakan Menginstall Software
Bajakan

Kiat terakhir ini mungkin paling sering dilakukan oleh kita para mahasiswa. Menginstall aplikasi bajakan selalu jadi jalan pintas
untuk bisa menggunakan software yang kita inginkan. Namun, kebiasaan ini ternyata memiliki resiko yang berbahaya.

Software bajakan yang banyak berterbaran di internet banyak yang sengaja dengan virus atau ransomware yang terdapat didalamnya. Apabila
kita mendownload lalu menggunakannya makan dengan segera perangkat kita akan terserang virus tersebut.

Jika kasusnya sama seperti maka kamu akan diminta untuk membayar tebusan agar data kamu bisa kembali seperti semula.

 

4# Selalu Perhatikan Alamat Situs yang Diakses

Kejadian ini baru – baru saja terjadi di lingkungan kampusku. Seperti kampus pada umumnya, sistem akun kami menggunakan SSO (Single
Sign On
) untuk mengakses beragam platform yang dikembangkan kampus.

 

Akan tetapi, halaman akun login SSO kami telah diduplikat dengan seorang pelaku phising dengan domain yang berbeda dan memiliki tampilan sangat mirip dengan halaman login kami. Apabila tidak teliti tentu saja kami dengan percaya mengetikkan username dan password kami di halaman phising tersebut.

Terus, untuk kebutuhan finansial bagaimana nih kiatnya?
Yuk simak bagian selanjutnya…

 

Caraku Menjadi Nasabah Bijak Bersama Bank BRI

 

Empat hal sebelumnya merupakan kiat yang sampai ini telah aku terapkan untuk melindungi diri dari kejahatan siber sebagai seorang
mahasiswa. Tetapi kurang lengkap rasanya jika kita tidak membahas kiat aman melakukan transaksi digital.

Sebagai nasabah bank BRI aku sudah banyak mendapatkan edukasi dan informasi yang penting untuk tidak hanya dipahami tapi dipraktekkan
oleh kita semua. BRI sebagai bank yang berkomitmen untuk senantiasa melindungi seluruh nasabahnya terus melakukan berbagai upaya.

Tidak hanya meningkatkan sistem keamanan secara menyeluruh, tetapi juga terus memberikan edukasi kepada nasabah untuk bersama
menjadi nasabah bijak agar terhindar dari kejahatan siber.

Apa saja itu, mari kita bahas…

 

1# Nasabah Bijak Gunakan Password yang Rumit

Kiat pertama ini mungkin telah kamu banyak dengar juga. Tetapi pada kenyataannya masih banyak sekali orang yang asal – asalan saja membuat
password yang akhirnya rentan untuk diretas. Jangan sampai kamu termasuk yang seperti itu ya..

Gunakan password yang kuat atau tidak mudah ditebak seperti kombinasi dari huruf besar, kecil, dan angka. Lebih baik lagi apabila
kamu menggunakan simbol tertentu dalam password yang kamu gunakan. Ini aku terapkan untuk membuat sandi akun dan transaksi mobile banking BRI.

 

2# Nasabah Bijak Selalu Jaga Data Pribadi

 

Menjaga kerahasiaan data pribadi merupakan harga mati yang harus kita terapkan di dunia teknologi kini. Data pribadi penting untuk
diharasiakan agar terhindar dari kejahatan yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan data – data tersebut.

Sebagai nasabah bank BRI aku selalu menjalankan prinsip ini dengan tidak pernah membagikan PIN/MPIN, password transaksi, dan kode OTP yang diberikan pada kebutuhan tertentu. Penting untuk kamu ketahui juga bahwa pihak bank juga tidak pernah menanyakan data pribadi tersebut untuk mereka.

 

3# Nasabah Bijak Kenali dan Waspada Modus
Soceng

Praktik Soceng atau Social Engineering merupakan praktek penipuan yang telah marak terjadi. Praktik ini bertujuan untuk memengaruhi korban agar mengikuti perintah atau kehendak pelaku seperti pemerasan atau mendapatkan data perbankan korban.

Kisah Penelepon Misterius dan Phising yang aku alami adalah contoh dari kejahatan soceng yang telah banyak berterbaran. Untuk soceng dalam
hal perbankan sendiri OJK (Otoritas Jasa Keuangan) telah menghimpun beberapa modus yang marak digunakan.

 

 

Bisa Berupa, Pewanaran Program atau Layanan Tertentu

Penawaran yang sering diajukan kepada calon korban dapat berbentuk pinjaman dengan bunga rendah, cicilan KPR atau kendaraan yang
mudah, hingga penawaran sebagai nasabah prioritas dengan biaya yang sangat miring.

Calon Korban yang tertarik biasanya akan dihubungi atau diminta untuk mengisi form tertentu dimana didalamnya korban akan diminta
memasukkan data pribadinya yang membuat pelaku dapat mengakses rekening korban dan mengurasnya.

 

Bisa Berupa: Mendapatkan Hadiah atau Bonus

Penipuan seperti ini mungkin sudah sangat sering kita temui dengan modus menyatakan bahwa kita terpilih untuk mendapatkan hadiah atau bonus. Modusnya adalah korban yang tertipu akan diminta untuk memasukkan kode OTP yang diberikan pelaku untuk melakukan phising agar hadiah dapat dicairkan.

Modus lainnya adalah dengan meminta korban membayar sejumlah dana untuk keperluan administrasi atau pendukung lainnya agar hadiah dapat dikirimkan dan diproses.

 

4# Nasabah Bijak Ketahui Akun dan Kontak Resmi Bank BRI

 

Agar kamu terhindar dari penipuan atau HOAX kejahatan soceng diatas sangat disarankan kamu untuk mengenali dan mencatat akun dan kontak resmi bank BRI. Maka untuk setiap tawaran atau program yang tidak diberitahukan melalui akun atau kontak diatas. Kamu bisa pastikan bahwa itu penipuan!

Selain itu, bank BRI juga aktif menyampaikan HOAX atau modus yang tengah beredar di masyarakat agar semakin banyak orang yang terhindar dari kejahatan tersebut.

 

 

5#Nasabah Bijak Manfaatkan Sistem Keamanan
BRI dengan Optimal

 

Langkah selanjutnya adalah dengan memanfaatkan seluruh pendukung keamanan yang telah dikembangkan bank BRI dengan maksimal agar akunmu
semakin terlindungi. Apa saja yang telah aku lakukan, ini dia..!

 

1. Aktifkan Multi Factor Authentication

Saat ini telah banyak dikembangkan sistem pengamanan yang lebih sulit ditembus yang biasa dikenal sebagai multi faktor auntentikasi.
Sistem ini menjadikan keamanan akun kita meningkat karena untuk membukanya membutuhkan lebih dari satu sandi.

Contohnya pada aplikasi mobile banking BRI, ketika kamu memasukkan username dan passoword untuk login kamu hanya bisa mengakses akun
pribadimu saja. Akan tetapi, setiap kegiatan transaksi yang dilakukan kamu diharuskan untuk menasukkan PIN atau sandi lain yang berbeda.

Dengan begitu, akun tidak dapat dengan mudah melakukan transaksi tanpa sandi trasaksi yang ada.

 

2. Aktifkan Biometric Security

Tubuh manusia satu dengan yang lainnya tentu berbeda dan memiliki keunikan masing – masing. Oleh karena itu, saat ini teknologi
pengamanan yang berkembang menjadikan bagian tubuh kita sebagai ‘sandi’ untuk bisa mengakses akun tertentu.

Contohnya pada sistem mobile banking BRI yang mana pada aplikasi tersebut telah didukung teknologi biometri yang menjadikan akun mu
hanya bisa diakses dengan wajah atau sidik jari yang dimasukkan!

Teknologi ini tidak hanya menjadikan akun kita lebih aman tetapi juga mempermudah proses log in dan kita tidak perlu semakin banyak
mengingat password.

 

3. Jangan Lupa Update Aplikasi Secara
Berkala

Terakhir tapi tidak kalah penting adalah selalu melakukan update berkala aplikasi BRI mobile banking yang aku gunakan. Tujuannya agar kita senantiasa mengetahui keterbaruan apa yang dikembangkan dan bisa kita manfaatkan.

 

Yuk, Jadi Bagian Dari Penyuluh Digital Masa Kini

 

 

Pandemi yang menjadikan setiap orang menjadi lebih terbiasa dan mengandalkan internet untuk menyelesaikan kebutuhan mereka
meningkatkan kesempatan terjadinya kejahatan siber. Ditambah, pelaku yang sulit ditemukan menjadikan kejahatan siber tidak mudah diberantas.

Oleh sebab itu, kita dapat mengambil peran menjadi penyuluh digital yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan
masyarakat tentang maraknya kejahatan siber yang terjadi. Karena kunci berhasilnya kejahatan ini adalah ketika dibuka jalan oleh sang korban.

Bank BRI melalui gerakan #NasabahBijak telah memulai langkah nyata untuk terus meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat
mengenai pentingnya melindungi diri dari kejahatan siber.

Tidak hanya itu penyuluh digital melalui gerakan #NasabahBijak juga dapat membantu memberikan literasi keuangan seperti pengelolaan keuangan
hingga sistem kredit.

Ada dua tugas penting penyuluh digital

Pertama, mengedukasi orang lain terkait layanan perbankan hingga transaksi digital yang sekarang ini telah banyak digunakan
untuk mempermudah kehidupan.

Kedua, mengedukasi pentingnya menjaga dan mengamankan segala akun dan rekening digital pribadi dari incaran kejahatan siber.

Tentu saja kamu dapat bergabung menjadi bagian ini dengan mulai mengajak keluarga dan teman belajar lebih jauh tentang layanan
digital dan ancaman dibaliknya.

Kesimpulan

Berdasarkan cerita pengalamanku dan temanku yang pernah menjadi korban kejahatan siber, bahwa kejahatan ini tidak memandang siapa kamu
sebagai korbannya.

Selagi ada celah yang terbuka, maka siapa saja dapat dengan mudah menjadi kejahatan siber yang kerugiannya bisa menjadi sangat besar.
Oleh karena itu, penting bagi setiap kita untuk menyadari ancaman ini dengan bekal pengetahuan.

Sadar akan hal tersebut, gerakan Penyuluh Digital yang bekerjasama dengan Bank BRI lahir untuk terus memberikan edukasi dan
menyelamatkan lebih banyak orang dari ancaman kejahatan siber.

Maka kamu, dapat bergabung dengan gerakan ini dengan mulai berbagi pengalaman dan tips yang kamu punya kepada keluarga dan teman terdekat.
Karena semua hal besar, tentu dimulai dengan langkah kecil dahulu.

Ayo
Bersama Menjadi Nasabah Bijak untuk Hindari Kejahatan Siber

Kalau begitu,

Sekian postingan ku pada kesempatan kali ini. Jika kamu
merasa postingan ini bermanfaat jangan lupa untuk bagikan kepada teman – teman
mu dan terimakasih sudah berkunjung^^

 

Rate this article
5/5

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *