Cerita Makna: Sejuta Asa Meraih Kampus Ganesha

Facebook
Twitter
LinkedIn

Daftar Isi

Setiap kesuksesan yang
ada didunia ini. Selalu tersimpan kisah yang mengetuk hati.

Setiap keberhasilan
yang sedang dinikmati. Selalu ada harga yang harus diberi.

Setiap mimpi yang
berhasil didapati. Selalu ada luka yang senantiasa menyertai.


Kali
ini aku mau berbagi sedikit lika liku perjuanganku dalam menggapai impian buat
kuliah di ITB, setelah sebelumnya aku memposting keberhasilanku lolos SBMPTN
ITB. Aku bakal nyeritain kisah ku dari awal kelas 12. Karena emg baru berjuang
dari situ sih, ehe.. 

Jadi
aku yang dulu baru saja menginjak bangku kelas 12. Selama ini cuman bisa
mendengar kisah-kisah dari kakak-kakak tentang ngapain aja dikelas 12. Dan
dengan begitu banyaknya nasihat datang, aku masih merasa ngga peduli amat
tentang persiapan kelas akhir ini. Hal ini membuatku harus bekerja ekstra
setelahnya. Aku merasa biasa-biasa aja diawal, mungkin kalian juga. Hanya guru
yang berubah menjadi motivator dan lebih dari sekedar pemberi materi semata.
Sisanya? sama.

Awal
kelas 12 aku masih punya tanggungan event dan organisasi sekaligus. Wah mampus
dah aku. Dan waktu itu masih bersemangat buat nyelesein semua pekerjaan event
dan organisasiku. Tiap orang punya pendirian ya. Beberapa temanku udah mulai
buat fokus dan mengurangi kegiatannya disekolah. Jujur aja ini sangat annoyed bagiku.
Mereka yang tiba-tiba ngilang gitu aja, emang kerjaannya siapa yang bakal
nyelesein? Kan temennya juga. Emang temennya gamau kuliah apa.. tapi ya
sebagian dari itu tetap keukeh harus fokus belajar dan ya daripada ngurusin
gituan trus aku kudu tetap jalan nyelesein semua tugasku.

Sepanjang
masi ngurus event dan organisasi aku sama sekali gapunya jadwal belajar. Bahkan
disaat temenku yang lain udah banyak masuk les, aku blom ada niatan. Bukannya
gamau. But, adikku tahun ini masuk SMP, SMA. Aku tidak punya uang untuk
membayar cash sekian juta ke bimbel itu. Nyicil malah jatuhnya
lebih mahal. Aku urung mendaftar berharap ke depan masi ada kesempatan. Harapanku
hanya menjadi harapan
. Nah tapi aku juga ngerasa ya, sejak kelas awal kelas
12, apapun pelajarannya aku fokus dikelas pahamin materi guru dan latihan soal
yang diberikan. Karena mau bagaimana lagi? Diluar kelas pikiranku pasti bakal
kemana-mana.

Setiap
apa yang diterangkan aku perhatikan dengan baik. Mencatat semua apa yang perlu
dicatat. Bertanya kalau blom paham. Dan serius ngerjain pas dikasi soal buat ngelatih
otak ngerjain soal-soal expert. Di rumah aku sebatas ngerjain
PR yang dikasi, klo gaada? Yaudah aku ngga belajar, ngerjain yang lain aja.
Ngerjain PR sendiri bagiku adalah kemajuan. Dua tahun sekolah jarang banget aku
bikin PR sendiri. Cuman nyalin dan diubah dikit punya teman. Banyak alasannya.
Malas contohnya. Lalu tidak paham yang selalu berakhir malas.

Oh
ya, karena waktu itu aku blom les, aku ngga diam gitu aja. Aku hubungi semua
kakelku yang udah lolos waktu itu untuk kuminta lungsuran bukunya. Karena emang
aku punya banyak kakel yang akrab. Tak butuh lama. Bertumpuk buku bekas tertata
dikamar. Yah lumayan lah. Staterpack diawal, yang ntah kapan
akan mulai kubuka. Sampe aku nulis ini saat udah lolos, bukunya masih
ada yang blom kugara sama sekali
.

Sekilas
membuka buku-buku bikin ngerti gambaran materi SBM kayak apa. Materi yang baru
dipelajari dikelas 12 yang mana. Dan materi dulu-dulu yang kek nya udah menguap
setiap semesteran. Dalam hati aku berniat bakal ngulang materi yang dlu gagal
masuk. Niat yang baik dan berjalan lambat terwujud.

Pola
belajar seperti ini masi aku lakukan sampai event dan organisasiku hampir
regenerasi. Ku kasih tau. Waktu itu aku menjadi tim steering commite yang
bertanggungjawab atas 3 event. Kalian bisa bayangin. Walaupun bukan panitia
seperti yang kalian kenal. Tim ku pokoknya tanggungjawab atas keberhasilan tiga
event. Dan waktu itu, sistem ini baru perdana dilakuin. Gublu si emang. Tapi
bagaimana lagi. Keterbatasan SDM dan besarnya target memaksa kami merumuskan kepanitiaan
yang baru. Cemooh dibelakang dan sindiran dari yang gasuka bukan masalah lagi.
Aku cuman heran, kalua iya niat kita buat ngebanggain sekolah? Lantas mengapa
harus saling sikut untuk melakukannya hanya karena beda jalan. Bukankah ujung
yang kita tuju sama?  Manusia terkadang sibuk dengan ambisi golongan
sehingga melupakan kepentingan Bersama.

Dalam
organisasi ku kasih tau juga. Aku jadi ketua rohis. Waw. Percayalah aku tidak
sesholeh dari ekspetasi sesaat kalian. Aku emang suka dan aktif dalam hal
keagamaan. Aku besar dikeluarga yang baik dan paham agama. Orangtuaku ingin aku
bisa menjadi pribadi yang berbeda dari pemuda sekarang pada umumnya. Jadi aku
ikut rohis. Aktif, dan enjoy disana. Dirohis aku belajar ngga
hanya sekedar Islam. Tapi belajar memimpin yang butuh banyak softskill dan
menata organisasi. Aku juga belajar bagaimana memperlakukan orang lain. Dan
menempatkan mereka dimana mereka sukai.

Karena
struktur baru ini tim SC (mulai ini aku singkat
steering commite) belum
berjalan baik. Dan aku banyak megang sampe ke teknis banget lah. Apalagi waktu
udah deket hari-hari acara. Takdir kurang baiknya. Mental setiap manusia pasti
beda. Kepanitiaan banyak yang kacau. Aku 
down. 

Waktu
itu aku sama sekali gakepikir buat belajar disaat semua temenku banyak yang
ngilang dengan alasan orangtua nyuruh belajar. Aku udah berada dititik nadir
hidupku.

Apakah
hanya orangtuaku yang ngga nyuruh belajar? Atau jangan-jangan mereka sedih dengan
kesibukanku dan pasrah denganku? Aku gatau harus apa. Disaat itu. Kelas 12
dengan event dan belajar yang saling minta diperhatikan. Ada pikiran mengapa
aku ambil jalan ini dlu? Kenapa harus jadi anak yang aktif? Kenapa ngga burenk
aja kek yang lain? Semua yang aku sesali menjadi syukur saat aku
menulis CV di ITB kemudian.

Rate this article
5/5

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *